Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Tuesday, December 11, 2012

Wisata - Pantai Amed Bali


Objek Wisata Pantai Amed 


Sumber Bali tour club


Salah satu objek wisata di Bali yang terkenal dengan site diving dan snorkeling adalah pantai Amed. Terletak di belahan timur Pulau Bali, bisa ditempuh 30 menit berkendaraan dengan motor atau mobil dari pusat kota Amlapura, Kabupaten Karangasem dan sekitar 2.5 – 3 jam perjalanan dari bandara.  Salah satu bagian pantai di sini adalah Pantai Jemeluk Amed, memiliki pemandangan bawah laut yang eksotis baik itu terumbu karang maupun kehidupan ikan laut tropis yang ada di dalamnya. Menginjakkan kaki kita di bukit Jemeluk, kita bisa menyaksikan hamparan lautan biru yang indah, deretan perahu nelayan sepanjang bibir pantai dan perkasanya Gunung Agung yang menjulang tinggi. Liburan anda akan terasa beda dengan suasana pedesaan dengan penduduk setempat yang ramah.
Objek wisata pantai Amed BaliYang menjadi unggulan di objek wisata pantai Amed adalah surganya bagi para penyelam dan sudah terkenal sampai ke mancanegara, memiliki tekstur pantai yang berkoral, air yang bening dan tenang dan tentunya memiliki keindahan bawah laut. Banyak wisatawan dari mancanegara dan beberapa wisatawan domestik mengunjungi objek wisata di Bali ini. Yang tak kalah menariknya jika melakukan wisata di sini suasana eksotis di pagi hari, dengan cahaya kuning keemasan matahari terbit di pagi hari, dipadu dengan segarnya angin laut dan pedesan yang jauh dari polusi, sungguh merupakan terapi alam yang membuat pikiran anda refresh kembali, sehingga membuat suasan liburan anda di Bali semakin mengesankan. Wisatawan yang masih mendominasi di sini adalah wisatawan asing, objek wisata yang indah ini sangat disayangkan masih jarang dikunjungi wisatawan domestik, mungkin informasi yang kurang
Sunrise - matahari terbit di  pantai Amed BaliMata pencaharian masyarakat setempat sebagai peternak, nelayan, pembuat garam dan beberapa berkecimpung di industri pariwisata. Aktifitas wisatawan yang bisa dilakukan selama liburan di Amed – Bali, bisa hanya sekedar jalan-jalan menikmati indahnya panorama laut yang alami, berjemur, berenang, snorkeling maupun diving. Akses ke lokasi objek wisata bisa dengan mobil sepeda motor maupun bemo. Untuk sarana akomodasi, sudah banyak disediakan seperti hotel, losmen maupun bungalow dengan tarif yang terjangkau.
Diving di AmedUntuk menjelajahi objek wisata di Bali, kami Bali Tours Club menyediakan beberapa paket wisata tour yang sudah kami kemas di sini, anda bisa juga sewa mobil dan setir sendiri, hampir setiap persimpangan jalan raya ada petunjuk jalan atau tanya penduduk setempat dengan sopan ataupun menggunakan supir kami yang telah berpengalaman di industri pariwisata…selamat menikmati liburan anda di Bali.
Untuk mengetahui informasi mengenai objek wisata lainnya kunjungi objek wisata di Bali atau informasi khusus tentang pantai-pantai wisata yang ada, klik  pantai-pantai di Bali
Hotel murah yang kami rekomendasikan di kawasan objek wisata Amed  ” ACARYA BUNGALOWS
ACARYA BUNGALOWS |Hotel Murah di Amed

ACARYA BUNGALOWS


Wednesday, October 17, 2012

Wisata-Pantai Sawarna Lebak Banten

Pantai Sawarna, Mutiara Wisata di Selatan Banten


Kawasan Pantai Sawarna yang membentang di pantai selatan Lebak, Provinsi Banten, dalam satu dasawarsa terakhir muncul sebagai tujuan wisata baru.

Kawasan hutan pantai yang dulu terkenal sebagai desa siluman itu kini bangkit sebagai tujuan wisata yang lebih menarik daripada Pelabuhan Ratu di Sukabumi yang berada dalam satu garis pantai di kawasan itu. Kawasan ini dapat dikatakan sebagai mutiara baru di selatan Banten.

Tuesday, October 16, 2012

wisata-cukang taneuh

Cukang Taneuh ( Green Canyon)

Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. Sebenarnya tempat ini punya nama asli yaitu Cukang Taneuh. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Sedangkan Cukang Taneuh punya arti yaitu jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.

wisata-kampung sampireun

Kampung Sampireun

Hotel Kampung Sampireun mulai Beroperasi pada bulan Januari 1999 yang mana peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pariwisata Seni dan Budaya Bapak Marzuki Usman pada tanggal 4 September 1999.

Kampung Sampireun merupakan sebuah Resort bernuansa Perkampungan Sunda yang berada di ketinggian ± 1.000 meter diatas permukaan laut.

Berlokasi di Kampung Ciparay desa Sukakarya kecamatan Samarang Kabupaten Garut, Jawa Barat dengan luas area ± 3,6 hektar termasuk luas Situ Sampireun (1 Hektar) dengan 7 mata airnya.

Kampung Sampireun memiliki 22 Bungalow terdiri dari 8 unit tipe Kalapalua Suite (Satu kamar tidur & teras), 4 unit tipe Kurjati Suite (Satu kamar tidur, ruang tengah, & teras), 6 unit tipe Waluran Suite (Dua kamar tidur, ruang tengah, & teras), 1 unit tipe Cikuray Suite (Dua kamar tidur, ruang tengah, & teras), 1 unit tipe Papandayan Suite (Dua kamar tidur, ruang tengah, & teras) , dan 1 unit tipe Manglayang (Tiga kamar tidur, ruang tengah, & teras).

Monday, October 15, 2012

wisata-waduk jatiluhur

Alternatif Murah Meriah Wisata Keluarga

Pergi keluar kota pada akhir pekan adalah hal yang sangat lumrah. Berbondong-bondong orang pergi keluar kota dengan niat bersantai meski kadang justru harus terjebak macet berjam-jam di jalanan di Bandung atau Puncak.

Nah, salah satu alternatif tempat wisata yang cukup dekat dan tidak macet adalah Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Wisata luar kota yang murah meriah dan bebas macet!

Bila sudah sering pergi ke Bandung melalui jalan tol Cipularang, Anda mungkin familiar dengan tanda arah ke Purwakarta dan Jatiluhur. Di sinilah Anda harus berbelok untuk mencapai Waduk Jatiluhur.

Dibangun tahun 1957, Jatiluhur telah dirancang sebagai waduk serbaguna. Selain mencegah banjir di hilir Sungai Citarum, waduk ini juga merupakan sumber air untuk sawah-sawah di bagian utara Jawa Barat. Waduk Jatiluhur juga berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik yang mengaliri Jawa-Bali serta memasok air untuk industri dan rumah tangga di seputaran Jakarta, Bekasi, dan Karawang.

Bagi masyarakat setempat, Waduk Jatiluhur juga menjadi tempat budidaya ikan keramba jaring apung. Jenis usaha ini bahkan berkembang kian pesat dan mampu memproduksi puluhan ribu ton ikan pertahun. Belakangan waduk seluas 8300 hektare ini juga berkembang menjadi tujuan wisata bagi warga ibu kota.

Jangan kira waduk ini hanya sebuah bendungan penampung air yang kosong. Pemandangannya indah, terutama bila langit sedang biru. Wisatawan dapat duduk di pinggir waduk, di bawah naungan pohon, sembari menikmati pemandangan waduk dan Gunung Parang serta Gunung Tiga Menara sebagai latar belakangnya.

Selain itu, Anda pecinta kemping pun dapat melakukannya di sini. Di lokasi juga ada peralatan kemping yang dapat disewa seperti tenda, kursi lipat, peralatan memasak, dan sebagainya. Jadi, Anda pun tidak perlu repot-repot membawanya dari rumah.

Piknik dengan membawa makanan sendiri dari rumah bisa jadi pilihan. Bila tidak, ada banyak pedagang yang menawarkan sajian tradisional sederhana seperti karedok, rujak, dan pecel. Pedagang kelapa muda pun banyak tersedia di pinggir waduk. Anda menginginkan menu yang lebih semarak? Warung-warung di pinggir jalan menyediakan menu ikan goreng dan bakar.

Salah satu yang dapat Anda coba adalah Resto Terapung Kampung Air, sekitar 1 km dari dermaga. Untuk mencapai restoran ini Anda harus menggunakan perahu milik nelayan. Untuk satu perahu dapat diisi 8-15 orang dengan biaya Rp60 ribu pulang-pergi. Di restoran ini pilihan menu ikan sangat lengkap.

Waduk Jatiluhur juga merupakan pilihan lokasi yang tepat bila Anda membawa anak-anak. Di sini ada sebuah taman bermain air dengan berbagai wahana. Di pinggir waduk terdapat kereta monorel yang harus dikayuh. Dari atas wisatawan dapat melihat pemandangan waduk dengan lebih luas. Harga tiket monorel ini hanya Rp10 ribu untuk satu putaran, dan dapat ditumpangi dua orang.

Tarif tiket masuk ke Waduk Jatiluhur ini adalah Rp7.500 per orang dan kendaraan roda empat seharga Rp10.000 untuk akhir pekan. Nah, murah meriah kan?

Sunday, October 7, 2012

WISATA-PANTAI BAGEDUR

Keistimewaan Dan Keindahan Pantai Bagedur

Apakah kalian tahu tentang pesona keindahan pantai selatan di Yogyakarta? Pantai seperti parangtritis, depok, glagah, dan lain-lain pasti akan memukau kalian. Tapi apakah kalian tahu untuk warga Banten bahwa pesona pantai selatan ini juga bisa kalian nikmati di provinsi kalian tercinta ini. Apa lagi kalo bukan Pantai Bagedur. Pantai yang memiliki keindahann ombak yang dipadu dengan hamparan pasir pantai yang menggoda pasti menarik minta para wisatawan untuk mengunjunginya.

Pantai Bagedur merupakan obyek wisata yang terletak di daerah kecamatan Malingping, kabupaten Lebak, Banten. Jaraknya tidak jauh dari Kota Rangkasbitung, hanya sekitar 115 Km. Setelah itu kalian bisa langsung menikmati hembusan angin sambil berjalan menyusuri pantai. Diiringi dengan ombak yang berkejar-kejaran, hamparan pasir putih yang luas. Dihiasi dengan canda tawa sanak saudara pasti menambah kemeriahan liburan kalian di pantai Bagedur ini.

Kelebihan pantai ini yang banyak menarik minat para wisatawan adalah kondisi pantai yang memiliki panjang hingga 10 Km serta lebar pantai hingga 50 Meter. Ditambah lagi dengan kelandaian pantai ini serta pasir pantainya yang padat, memungkinan pantai ini disusuri oleh kendaraan bermotor. Bahkan tidak jarang pantai ini juga sering dijadikan tempat relli motor.

Jika kalian datang ke tempat ini, kalian bisa langsung membawa kendaraan kalian ke pinggir pantai sambil menikmati gulungan ombak pantai selatan. Keluarga serta anak-anak kalian juga bisa bebas bermain di pantai ini. Kondisi pantainya yang tidak berkarang membuat para orang tua tenang melepas anaknya di pantai ini. Selain itu, di pinggiran pantai juga banyak dijajakan tempat makan yang menyediakan aneka makanan laut dengan berbagai macam olahan. tentu saja semua itu bisa kalian nikmati dengan harga yang terjangkau.

Jalan Menuju Pantai Bagedur juga memiliki banyak rute. Kalian bisa menentukan sendiri sesuai keinginan dan asal kalian. Jika ingin cepat sampai, kalian bisa melalui rute Rangkasbitung – Gunung Kencana – Malingping. Atau jika kalian berasal dari Jakarta, bisa menggunakan rute melalui Tol Jakarta – Merak. Lalu keluar di pintu Tol Serang Timur dan melanjutkan perjalanan menuju Pandeglang – Saketi – Malingping. Kalo melalui Bogor, bisa juga melalui rute Cibadak – Pelabuhan Ratu – Bayah – Malimping. Banyak sekali rute menuju pantai bagedur ini.

Gimana? sudah tidak sabar untuk mengunjungi pantai ini? Makanya, siapkan liburan kalian bulan ini untuk mengunjungi pantai bagedur di Provinsi Banten. Inilah tempat wisata yang menarik yang ada di provinsi Banten. Selamat berlibur



⁠May 21st, 2012⁠Aneka Wisata • Banten • Daerah Wisata • Wisata Pantai⁠0 Comments

Apakah kalian tahu tentang pesona keindahan pantai selatan di Yogyakarta? Pantai seperti parangtritis, depok, glagah, dan lain-lain pasti akan memukau kalian. Tapi apakah kalian tahu untuk warga Banten bahwa pesona pantai selatan ini juga bisa kalian nikmati di provinsi kalian tercinta ini. Apa lagi kalo bukan Pantai Bagedur. Pantai yang memiliki keindahann ombak yang dipadu dengan hamparan pasir pantai yang menggoda pasti menarik minta para wisatawan untuk mengunjunginya.

Pantai Bagedur merupakan obyek wisata yang terletak di daerah kecamatan Malingping, kabupaten Lebak, Banten. Jaraknya tidak jauh dari Kota Rangkasbitung, hanya sekitar 115 Km. Setelah itu kalian bisa langsung menikmati hembusan angin sambil berjalan menyusuri pantai. Diiringi dengan ombak yang berkejar-kejaran, hamparan pasir putih yang luas. Dihiasi dengan canda tawa sanak saudara pasti menambah kemeriahan liburan kalian di pantai Bagedur ini.

Kelebihan pantai ini yang banyak menarik minat para wisatawan adalah kondisi pantai yang memiliki panjang hingga 10 Km serta lebar pantai hingga 50 Meter. Ditambah lagi dengan kelandaian pantai ini serta pasir pantainya yang padat, memungkinan pantai ini disusuri oleh kendaraan bermotor. Bahkan tidak jarang pantai ini juga sering dijadikan tempat relli motor.

Jalan Menuju Pantai Bagedur juga memiliki banyak rute. Kalian bisa menentukan sendiri sesuai keinginan dan asal kalian. Jika ingin cepat sampai, kalian bisa melalui rute Rangkasbitung – Gunung Kencana – Malingping. Atau jika kalian berasal dari Jakarta, bisa menggunakan rute melalui Tol Jakarta – Merak. Lalu keluar di pintu Tol Serang Timur dan melanjutkan perjalanan menuju Pandeglang – Saketi – Malingping. Kalo melalui Bogor, bisa juga melalui rute Cibadak – Pelabuhan Ratu – Bayah – Malimping. Banyak sekali rute menuju pantai bagedur ini.

Gimana? sudah tidak sabar untuk mengunjungi pantai ini? Makanya, siapkan liburan kalian bulan ini untuk mengunjungi pantai bagedur di Provinsi Banten. Inilah tempat wisata yang menarik yang ada di provinsi Banten. Selamat berlibur

WISATA-BADUY RANGKASBITUNG

Budaya Masyarakat Baduy rangkas bitung

Kawasan yang dihuni masyarakat Baduy di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, saat ini terancam terdesak oleh perkebunan kelapa sawit. Perilaku dan budaya masyarakat Baduy perlu dilindungi. Kawasan yang dihuni masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar harus dijadikan cagar budaya yang tidak boleh disentuh oleh kepentingan apa pun, ujar Sosiolog Raidwan Saidi yang dahulu lebih dikenal sebagai politisi/anggota DPR RI dari PPP.

Masyarakat Baduy pada hakikatnya sangat terbuka terhadap masyarakat lain yang ingin mengunjungi kawasan permukiman mereka. Tentu saja harus menaati larangan yang ditentukan masyarakat tersebut. Ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan masyarakat Baduy tersebut, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Larangan tersebut ialah membawa radio dan perangkat elektronika lainnya, membawa alat musik dan memainkannya, membawa senapan angin, menangkap dan membunuh binatang yang ditemui dalam perjalanan, membuang sampah sembarangan termasuk puntung rokok, meninggalkan api bekas masakan, menebang dan mencabut pohon, membawa dan mengonsumsi minuman keras, menggunakan sabun dan pasta gigi jika mandi di sungai, serta mengambil gambar/ memotret.

Memotret atau mengambil gambar diperkenankan hanya di Baduy Luar. Itu pun terbatas pada tempat-tempat tertentu, dan harus sepengetahuan tokoh masyarakat Baduy Luar.

Menurut Jaro Dainah, larangan-larangan tersebut tidak boleh dilanggar. “Orang yang masuk ke sini mesti menaatinya,” tuturnya bersungguh-sungguh. Aturan atau pantangan yang begitu banyak itu berasal dari agama leluhur mereka, yaitu Sunda Wiwitan.

Salah satu tempat tinggal masyarakat Baduy ialah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Di desa ini, tinggal Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Bila ingin menuju ke permukiman Baduy Dalam, harus melewati permukiman Baduy Luar di Desa Kanekes ini.

Desa ini dipimpin oleh kepala desa atau disebut jaro. Kepala desanya bernama Dainah. Jadi lebih dikenal dengan sebutan Jaro Dainah. Kepala desa yang dalam kesehariannya mengenakan pakaian adat serba hitam dengan tutup kepala hitam pula, mudah ditemui.

Layaknya juru penerang atau guide, Dainah tak merasa enggan untuk memberikan penjelasan yang dibutuhkan setiap orang yang ingin masuk wilayahnya hingga ke jantung wilayah Baduy Dalam.

Tidak Sulit
Menuju ke kawasan permukiman Baduy tidak sulit. Bisa ditempuh dari Jakarta menggunakan kendaraan pribadi. Melewati jalan tol dari Jakarta menuju Serang, keluar di pintu Tol Cikupa. Kemudian menuju ke Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Paling tidak memerlukan waktu empat jam dari Jakarta untuk sampai ke Rangkasbitung.

Di Kota Rangkasbitung, ada dua penginapan berkapasitas sekitar 100 kamar bertaraf melati. Penginapan yang dilengkapi berbagai fasilitas yang cukup memadai, seperti kolam renang dan ruang pertemuan, ini bertarif Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per malam.

Untuk dapat menemui masyarakat Baduy yang terdiri dari Baduy Luar dan Baduy Dalam, dari penginapan menuju Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, hanya memakan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan pribadi. Bagi yang ingin menggunakan angkutan umum juga tersedia bus ukuran 3/4.

Memasuki kawasan Desa Kanekes, pengunjung terlebih dahulu akan menemui beberapa rumah dan kios-kios kecil yang berada di bibir lorong yang cukup lebar. Di desa ini terdapat lapangan beraspal yang cukup luas. Di tengah lapangan luas yang digunakan untuk lahan parkir kendaraan, dan juga berfungsi sebagai terminal angkutan umum ini, terdapat patung sepasang orang Baduy lengkap dengan beberapa peralatan untuk bercocok tanam.

Sementara kios yang ada di seputar lapangan beraspal dan di sepanjang jalan batu bersemen menuju kawasan penduduk Baduy Luar, menjajakan berbagai benda cendera mata, baik khas Baduy maupun kain batik. Selain itu, ada pula kios yang merangkap sebagai tempat menjahit pakaian khas Baduy serta menjual kebutuhan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako), seperti gula, kopi, minyak goreng dan garam.

Setelah berjalan kaki sekitar satu kilo meter ke dalam, akan terlihat sebuah tugu yang berdiri tegak di atas lahan seluas sekitar 100 meter persegi.

Untuk melewati tugu tersebut pengunjung harus menaiki anak tangga (undakan) yang cukup tinggi dan terjal. Di balik tugu tersebut mulai terlihat rumah-rumah adat Baduy. Penghuni rumah-rumah yang beratap daun lontar dan berlantai kayu berbentuk rumah panggung itu, adalah masyarakat Baduy Luar.

Di beberapa rumah, tampak beberapa orang perempuan tengah menenun dengan peralatan tenun tradisional sederhana untuk membuat selembar kain sarung dan kain bahan pakaian yang umumnya berwarna gelap. Kain sarung hasil tenun kaum perempuan Baduy Luar dijual dengan harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per lembar.

Tidak sulit berkomunikasi dengan masyarakat Baduy Luar yang memang sudah akrab dengan pola hidup masyarakat pada umumnya. Meski begitu tidak terdengar suara radio dan televisi. Bahkan, listrik hanya tersambung hanya sampai di tugu atau beberapa ratus meter dari pondok sebuah keluarga Baduy Luar yang terdepan. Yang terdengar suara kicau burung dari pohon rindang yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

Hutan alam yang masih lestari diwarnai dengan kicauan burung yang bebas berlompatan di atas dahan, merupakan salah satu keindahan yang dimiliki masyarakat Baduy.

Baduy Dalam
Baduy Dalam terdiri dari tiga kampung yang dianggap keramat, yaitu Cibeo, Cikesik, dan Cikartawana. Ketiga kampung ini dihuni sekitar 500 orang. Warga ketiga kampung itu disebut “Urang Kejoron” atau Baduy Dalam. Masing-masing kampung dipimpin oleh Puun, pimpinan agama dan adat Baduy. Mereka memimpin secara turun-temurun. Mereka tinggal di tiga kampung tersebut.

Untuk menemui masyarakat Baduy Dalam, pengunjung harus melakukan persiapan fisik yang memadai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Waktunya setengah hari sendiri. Itupun kalau tanpa istirahat. Kalau terlalu banyak istirahat maka waktunya lebih dari delapan jam.

Bila dalam perjalanan pulang, hari telah malam maka tamu tidak diperkenankan bermalam di permukiman Baduy Dalam. Bila terpaksa maka harus membawa perlengkapan sendiri untuk bermalam di jalan.

Jalan setapak untuk masuk ke wilayah Baduy Dalam sangat licin meski matahari menyengat bumi. Kewaspadaan juga harus tetap terjaga ketika meniti jembatan-jembatan bambu yang pada umumnya cukup licin, yang menghubungkan wilayah yang satu dengan wilayah lainnya.

Pemandangan menuju ke Baduy Dalam ialah berupa hutan dengan pepohonan rindang menjadi atraksi yang indah. Sesekali di hutan yang sunyi terdengar beberapa anak kecil tengah bercanda ria sembari mencari ranting-ranting kering dan membabat rumput serta tumbuhan parasit yang menjalar di batang pohon besar.

Kayu dan ranting kering akan digunakan untuk memasak, sedangkan daun-daun segar yang dikumpulkan untuk pakan ternak kambing yang milik mereka.

Suka Bergaul
“Kami suka berkenalan dan bergaul dengan anggota masyarakat lainnya,” tutur Djuli, pemuda Baduy Dalam yang tengah berkunjung ke rumah kerabatnya di tepi Desa Kanekes.

Djuli yang mengenakan stelan pakaian khas Baduy Dalam berwarna serbahitam dengan ikat kepala berwarna putih sengaja keluar dari desanya untuk berjualan beberapa barang kerajinan, seperti topi dan tas yang dibuat dari akar pohon.

Dia mengakui untuk mencapai tepi desa Kanekes, dia harus menempuh perjalanan selama hampir empat jam dari tempat tinggalnya. Pemuda berkulit putih dan berperawakan sedang itu, menemui serombongan guru Sekolah Lanjutan Tingkat Atas bersama rombongan dari Kantor Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata yang berkunjung ke desa Kanekes.

Dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar, ia menunjukkan sebuah kartu nama seorang pimpinan perusahaan yang berkantor di gedung BRI, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta.

Kartu nama itu diperolehnya ketika pimpinan perusahaan itu berkunjung ke tepi desa Kanekes beberapa waktu silam. Djuli mengaku dirinya memperoleh pesanan beberapa potong kain sarung dan pernik-pernik lain hasil kerajinan orang Baduy Dalam. Untuk memenuhi permintaan itu, Djuli pernah berkunjung ke Jakarta beberapa kali dengan berjalan kaki.

“Dari tempat saya tinggal sampai ke Jakarta, dibutuhkan waktu selama dua hari jalan kaki,” katanya sambil tersenyum.

Djuli tidak hanya sekali, tetapi sampai dua kali mengunjungi sahabatnya di Jakarta itu.

Dalam melakukan perjalanan, menurut pengakuan Djuli, ia tak merasa khawatir kehabisan bekal makanan atau kesulitan tempat menginap. “Saya selalu dapat tumpangan menginap dari kawan-kawan yang ditemui di perjalanan,” tuturnya.

Masyarakat Baduy Dalam memang sangat bersahaja, mereka memegang teguh petuah dan aturan yang telah turun-temurun dianut mereka. Larangan menggunakan kendaraan bermotor, misalnya, masih terus dipatuhi hingga saat ini. Masyarakat Baduy pada dasarnya memeluk agama Islam.

Utamakan Kejujuran
Komunitas masyarakat Baduy yang tinggal di pegunungan Halimun dengan ketinggian 1.929 meter dan Gunung Kendeng dengan ketinggian 2.764 meter di atas permukaan laut, menurut Peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Bandung, Nandang Rusnandar, berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli baik asing maupun dalam negeri yang dilakukan sejak tahun 1832 hingga saat ini, menunjukkan masyarakat Baduy amat terbuka untuk menerima kehadiran siapa pun di lingkungan.

Penelitian yang dianggap paling sempurna mengenai masyarakat ini, lanjutnya, adalah yang dilakukan oleh Kementerian P dan K tahun 1959 dengan tenaga pelaksana Surya Saputra yang ditulis dalam sebuah buku sebanyak 13 jilid.

Masyarakat Baduy, lanjut Nandang Rusnandar yang berbicara dalam acara “Jelajah Budaya” yang diselenggarakan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata akhir Juni lalu, menurut penelitian itu adalah masyarakat yang mengutamakan kejujuran seperti anak-anak, menjunjung tinggi harkat manusia, kehidupan selaras dalam keluarga, dan memiliki toleransi tinggi yang muncul sebagai naluri.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Nandang Rusnandar membantah munculnya kelompok masyarakat Baduy Luar sebagai akibat sanksi yang dijatuhkan akibat pelanggaran.

“Masyarakat Baduy Luar muncul karena pilihan sendiri. Biasanya disebabkan keinginan untuk ikut berkembang seperti masyarakat lain di luar Baduy. Artinya, tidak tahan dengan aturan-aturan yang mesti ditaati,” tuturnya.

Pelanggaran adat, menurut dia, diselesaikan secara adat yang umumnya berakhir dengan musyawarah dan untuk mencapai mufakat. Tetapi bila masalah yang dihadapi menyangkut tindak kriminal. Kepala Adat (Jaro) melaporkannya kepada Polisi. Masyarakat Baduy memang menjunjung tinggi aturan yang berlaku,” kata Nandang Rusnandar yang ketika berbicara mengenakan pakaian khas Baduy.

Menyinggung tentang asal masyarakat Baduy, dia mengatakan, berdasarkan beberapa hasil penelitian, masyarakat Baduy merupakan pendatang yang berasal dari Banten Girang, yang sengaja mengasingkan diri akibat kejaran dari pihak yang menyebarkan agama Islam. “Jika kita berbicara secara jujur, masyarakat Baduy adalah asli penduduk setempat,” tambahnya.

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah orang Sunda asli. Dan lagi mereka tak mau menyebut dirinya sebagai orang Baduy tetapi orang Kanekes atau orang Rawayan seperti nama sungai yang melintas di daerah mereka.

Tidak Layak DTW
Sosiolog dan Peneliti Enjat DJ mengatakan, Baduy Dalam tidak layak dijadikan daerah tujuan wisata (DTW), “Meski membuka diri, mereka tidak pantas dijadikan tontonan. Kami juga merasa khawatir bila daerah mereka dijadikan daerah wisata kelestarian alam yang hingga kini mereka jaga dengan baik bisa menjadi rusak,” tandasnya.

Enjat DJ menyatakan, suku Sunda Wiwitan ini memiliki peninggalan tradisi megalitik. Peninggalan itu berupa punden (sebuah bangunan yang dipuja dan dikeramatkan) berundak (beranak tangga) ialah Punden Berundak Arca Domas, Punden Berundak Sangka Kosala, Punden Berundak Lebak Sibedug dan Punden Berundak Batu Geong Citaman.

Menurut pengamatannya, Punden Berundak Lebak Sibedug yang terletak di pinggiran Kampung Cibedug, Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Lebak hanya sesekali dikunjungi oleh orang-orang Baduy. Hal serupa juga terjadi pada Punden Berundak Sangka Kosala yang terletak di kampung Lebak Sangka, Desa Lebak Gedong, Kecamatan Cipanas.

“Meski begitu mereka yakin kedua punden berundak tersebut memiliki kaitan erat dengan mereka. Punden berundak yang masih dihormati masyarakat Baduy adalah Arca Domas. Arca ini masih dijaga hingga saat ini,” tutur Enjat DJ.

Punden Berundak Arca Domas yang terletak di sebelah Selatan Kampung Cikesik, merupakan bangunan punden berundak yang memiliki 13 undakan di tingkat paling atas terdapat sebuah batu tegak berukuran besar. Batu tersebut dipercaya sebagai lambang Batara Tunggal, Sang Pencipta Roh.

Punden Berundak tersebut berada di luar wilayah permukiman masyarakat Baduy sekarang ini. Konon dahulu kala, mereka tinggal di dekat pepunden tersebut. Namun karena terdesak, masyarakat Baduy menyingkir dan tinggal di wilayah sekarang ini.

Namun demikian masyarakat lain di sekitar pepunden itu tetap menghormati keberadaan pepunden tersebut.

Masyarakat Baduy terus berjuang untuk melestarikan alam yang ada di sekitarnya. Mereka percaya bahwa alam yang lestari merupakan sumber kehidupan yang tak ada habisnya.

LIBURAN-PANTAI ANYER

Daripada ke Bali, ke Anyer Saja

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F



Rabu, 16 Februari 2011 | 17:58 PM



Hotel Marbella, Convention and Spa, di Anyer, Banten

KOMPAS.com — Siapa bilang bulan madu harus di Bali. Jika Anda mencari tempat bulan madu dengan low budget, Marbella Hotel, Convention and Spa, Anyer, bisa menjadi pilihan.

Apalagi jika Anda warga Jakarta. Sering kali waktu untuk bulan madu selepas pernikahan menjadi kendala. Belum lagi bila jatah cuti kantor hanya sedikit. Lokasi Anyer yang hanya 3 jam lewat darat dari Jakarta bisa menjadi pertimbangan.

Marbella menawarkan paket Honeymoon hanya dengan harga Rp 3.500.000++. Paket tersebut sudah termasuk dua malam menginap di kamar Deluxe Suites. Jangan kaget saat masuk ke Deluxe Suites.

Kamar luas dengan king size bed berada di ruangan terpisah dengan living room. Tak hanya itu, living room terdiri dari TV, sofa empuk, sampai meja makan. Anda pun mendapatkan dapur sendiri lengkap dengan kulkas dua pintu. Kamar akan ditata cantik dengan bunga dan sekotak cokelat untuk menyambut pasangan yang berbahagia.

Selain kamar, paket bulan madu termasuk dengan sarapan, satu kali candle light dinner, dan spa. Dua gelas Sparkling Wine menjadi teman makan malam romantis di bawah temaram lilin. Anda pun bisa memilih lokasi makan malam dengan pasangan sesuai selera.

"Tamu bisa minta di-set up table di restoran kami, El Patio. Bisa juga di tepi kolam renang yang menghadap ke pantai atau di kamar," kata Public Relations Manager, Shinta N Israsari.

Pilihan paling romantis memang di kamar. Privasi lebih terasa tanpa gangguan tamu hotel lain. Pelayan akan menyiapkan meja di teras kamar yang lebar. Apalagi jika Anda memilih kamar Deluxe Suites dengan Garden/Pool/Ocean View. Panorama matahari tenggelam di Pantai Anyer menjadi teman Anda bersantap malam.

Bulan madu semakin romantis dengan spa treatment selama 135 menit. Perawatan tubuh ini sudah termasuk dalam paket honeymoon. Anda dan pasangan akan dipijat selama lebih dari dua jam di satu ruangan. Untuk pria, bisa pilih Javanese Massage untuk pijatan yang lebih kencang. Sementara untuk lulur, pilih aroma Green Tea dengan butiran scrub yang lebih kasar dan aroma menenangkan. Untuk wanita, bisa memilih Balinese Massage yang kemudian dipadu dengan lulur cokelat atau susu dengan butiran scrub yang halus.

Marbella juga menawarkan paket resepsi pernikahan, paket meeting, dan ulang tahun untuk anak-anak. Pilihan kamar yang luas, variatif, dan banyak menjadikan hotel ini cocok untuk pasangan, keluarga, maupun acara perusahaan.

LIBURAN-PANTAI CARITA

Taman Wisata Alam Pasir Putih Pantai Carita Sensasi Kesejukan Hijaunya Dedaunan dan Birunya Lautan

HAMPARAN Pasir Putih nan lembut, tiupan angin beraroma khas Pantai yang sejuk karena dipayungi pepohonan rindang, merupakan sensasi yang langsung dirasakan ketika tiba di Taman Wisata Alam Pasir Putih Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang – Banten. Sensasi seperti ini, baru sedikit saja dari sejuta kenikamatan yang bisa didapat wisatawan ketika berada di objek wisata pantai yang telah dikelola secara profesional sejak 20 tahun silam. 

Di Taman Wisata Alam Pasir Putih Pantai Carita, wisatawan akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas objek wisata yang akan sulit ditemui di daerah lain. Wisatawan bisa bermain jetsky, banana boat, diving, snorkeling atau melihat dari dekat keindahan Gunung Krakatau yang tak ada duanya. Semua kegiatan di laut ini, bisa dilakukan dengan tenang dan nyaman karena di tempat ini, disiagakan lifeguard profesional yang selalu siaga melindungi wisatawan.

Selain itu, di Pasir Putih, bisa dilakukan berbagai kegiatan kelompok seperti tarik tambang dan permainan lainnya yang dilengkapi area parkir yang luas (bisa menampung 150 bus), kamar mandi sebanyak 180 unit, dan fasilitas beribadah berupa mushola, menjadikan tempat ini sangat cocok untuk berwisata bersama keluarga, teman kantor atau kelompok besar lainnya.

Objek wisata seluas 2,5 Ha ini, juga sangat mudah dijangkau. Kondisi jalan yang cukup baik dan pemandangan alam disepanjang perjalanan yang indah, waktu 2,5 jam perjalanan dari Jakarta tidak akan terasa apa-apa. Apalagi ketika tiba di Taman Wisata Alam Pasir Putih Pantai Carita, akan langsung disambut suguhan musik live dari panggung hiburan. Bagi yang ingin membawa oleh-oleh buat kenang-kenangan atau buah tangan, di Pasir Putih ini juga tersedia Pasar Rakyat yang menyediakan berbagai cinderamata dan makanan khas Banten, khususnya Pandeglang